jump to navigation

PERAYAAN NATAL,UNTUK SIAPA? November 4, 2011

Posted by kapulu in sejarah agama.
trackback

Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus (Isa) pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Penjelasan Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:

“Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:

“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:
“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk
mengenang kematian Yesus Kristus.) “…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari ”Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad ke-empat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan
menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen. Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun =Matahari, Day = Hari – dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu — pen.)
Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – Yesus).

Simak lagi dari Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:

“Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus…”

Kelahiran Yesus dan Simbol Ilmu Perbintangan

Menurut kisah di Injil Perjanjian Baru, kelahiran Yesus ditandai dengan kemunculan bintang besar. Bintang yang muncul di sebelah Timur adalah Sirius, bintang paling terang pada malam hari, yang pada tanggal 24 Desember berada pada posisi sejajar dengan ke-3 bintang yang paling terang pada gugusan sabuk Orion. Ketiga bintang terang tersebut, sejak jaman dahulu dikenal hingga sekarang dikenal dengan nama “3 Raja”. 3 Raja (orang Majus) serta bintang paling terang, Sirius, semua menunjuk pada tempat terbitnya matahari pada tanggal 25 Desember. Inilah alasan mengapa ke-3 raja ‘mengikuti’ bintang di sebelah Timur untuk menemukan tempat terbit (lahirnya) matahari.

             Dikisahkan dalam injil Perjanjian Baru bahwa tiga orang majusi mengikuti bintang terang yang berada di sebelah timur sebagai petunjuk telah lahir seorang anak yang disebut sebagai Son of God, dan merekapun berhasil menemui Yesus bersama Siti Maryam dan memberikan hadiah berupa emas, kemenyan dan mur.

Tampak jelaslah bahwa cerita tiga orang majus menemui bayi yesus yang ditandai dengan kemunculan bintang terang memiliki indikasi cerita yang berhubungan dengan ilmu perbintangan dan dicampuri oleh kepercayaan paganisme. Yesus dimaknai sebagai lambang matahari terbit, bintang Sirius melambangkan bintang timur (star of Bethlehem) dan orang-orang majus diidentikan dengan bintang 3 raja.

Gambar ini menunjukan tiga raja menemui bayi Yesus

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: